Investasi Kawasan IMIP Morowali Tembus Angka 696,91 Triliun Hingga 2025

Kamis, 26 Februari 2026 | 09:31:55 WIB
Investasi Kawasan IMIP Morowali Tembus Angka 696,91 Triliun Hingga 2025

JAKARTA - Total investasi yang masuk ke kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park tercatat mencapai angka fantastis yakni Rp696,91 triliun hingga akhir 2025.

Lonjakan nilai penanaman modal yang sangat signifikan ini setara dengan 41,483 miliar dolar AS jika dikonversi ke dalam mata uang asing saat ini.

Pencapaian luar biasa tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang sangat pesat jika dibandingkan dengan total nilai investasi pada tahun 2022 lalu.

Pada periode tiga tahun sebelumnya tersebut, nilai investasi yang masuk terpantau berada pada angka 29,6 miliar dolar AS untuk kawasan industri.

Deputi Direktur Operasional IMIP, Yulius Susanto, memberikan keterangan resminya terkait perkembangan positif ini di wilayah Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu 25 Februari 2026.

Menurut beliau, kenaikan angka penanaman modal ini merupakan bukti nyata dari kepercayaan dunia internasional terhadap ekosistem industri di wilayah Morowali.

Pihak manajemen menyatakan bahwa aliran modal yang masuk ke kawasan IMIP terus menunjukkan tren peningkatan secara konsisten dari waktu ke waktu.

Pertumbuhan Investasi Dan Dampak Ekonomi Global

Pertumbuhan ekonomi yang masif ini tidak hanya sekadar angka, namun juga memberikan dampak yang sangat nyata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional.

Yulius menjelaskan bahwa dana investasi tersebut dialokasikan untuk berbagai sektor krusial, mulai dari pengembangan hilirisasi nikel hingga pembangunan infrastruktur penunjang.

Selain itu, dana jumbo tersebut juga digunakan untuk mendukung ekspansi para penyewa manufaktur yang beroperasi secara aktif di dalam kawasan industri.

Saat ini tercatat sudah ada sekitar 52 perusahaan yang menjalankan operasional mereka di bawah naungan manajemen ekosistem industri terpadu milik IMIP.

Fokus utama dari pengembangan kawasan ini adalah hilirisasi mineral, mulai dari pengolahan nikel, produksi baja tahan karat, hingga produksi baja karbon.

Tidak hanya itu, kawasan ini juga telah merambah pada penyediaan bahan baku utama untuk pembuatan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle.

Indonesia kini memegang posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok global untuk kebutuhan transisi energi hijau di masa yang akan datang.

Hal ini berkaitan erat dengan status Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan sekaligus produsen nikel terbesar di tingkat dunia saat ini.

Komitmen Keberlanjutan Dan Penerapan Prinsip ESG

Meningkatnya kesadaran global terhadap isu dekarbonisasi membuat kebutuhan akan mineral nikel diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan dalam jangka waktu yang panjang.

Menyadari posisi penting tersebut, IMIP menegaskan komitmennya untuk selalu menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance atau ESG dalam setiap aspek operasionalnya.

Penerapan standar internasional ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan industri di kawasan tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan bagi lingkungan hidup.

Kerja sama yang erat antara perusahaan pengolah mineral dengan produsen baterai kendaraan listrik menjadi kunci utama dalam menciptakan rantai pasok terintegrasi.

Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing produk industri asal Indonesia di kancah pasar perdagangan global.

Investasi yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir ini juga menjadi salah satu penopang utama bagi pendapatan fiskal negara saat ini.

Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari peran aktif pemerintah dalam memberikan kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif di wilayah Sulawesi Tengah.

Pihak perusahaan terus berupaya agar setiap modal yang masuk dapat memberikan nilai tambah, tidak hanya bagi korporasi tetapi juga bagi masyarakat luas.

Serapan Tenaga Kerja Lokal Dan Nasional

Sektor ketenagakerjaan menjadi salah satu indikator keberhasilan dari masuknya investasi senilai ratusan triliun rupiah ke wilayah Kabupaten Morowali selama beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data terbaru hingga akhir Januari 2026, jumlah pekerja asal Indonesia yang menggantungkan hidup di kawasan IMIP telah mencapai 89.849 orang.

Dari total puluhan ribu pekerja tersebut, mayoritas atau sekitar 92 persen di antaranya merupakan tenaga kerja yang berasal dari Pulau Sulawesi.

Secara lebih rinci, jumlah karyawan yang berasal dari berbagai wilayah di Sulawesi tercatat sebanyak 82.637 orang yang bekerja di berbagai sektor.

Sementara itu, sisa pekerja sebanyak 7.212 orang atau sekitar 8 persen berasal dari luar wilayah Sulawesi, termasuk dari Pulau Jawa.

Tenaga kerja yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah sendiri tercatat mendominasi dengan total jumlah mencapai angka 26.935 orang pekerja aktif saat ini.

Khusus untuk warga lokal yang berasal dari Kabupaten Morowali, tercatat ada sebanyak 14.613 orang yang telah terserap masuk ke dalam industri tersebut.

Manajemen IMIP ke depannya menargetkan adanya penguatan kapasitas bagi sumber daya manusia lokal melalui berbagai program pelatihan dan juga sertifikasi kompetensi.

Sinergi Pemerintah Dan Kelestarian Lingkungan Hidup

Langkah strategis ini dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai lembaga pendidikan serta pusat pelatihan vokasi guna mencetak tenaga kerja handal yang siap pakai.

Upaya ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan pertumbuhan industri sekaligus memberikan nilai manfaat sosial ekonomi yang lebih luas bagi warga di sekitar kawasan.

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, sebelumnya juga telah mengadakan pertemuan khusus dengan perwakilan 22 perusahaan penyewa yang aktif beroperasi di dalam IMIP.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur menegaskan bahwa Provinsi Sulawesi Tengah pada prinsipnya sangat terbuka terhadap segala bentuk investasi yang masuk ke wilayahnya.

Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa pertumbuhan industri yang pesat harus berjalan selaras dengan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam sekitarnya.

Ruang hidup masyarakat harus tetap terlindungi dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik serta memperhatikan kesejahteraan bagi para tenaga kerja yang ada.

Beliau menekankan bahwa manfaat dari pembangunan industri skala besar ini harus dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sinergi yang kuat antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dengan pihak manajemen IMIP diharapkan mampu membawa dampak positif yang nyata bagi kemajuan daerah.

Tujuannya adalah menjadikan Morowali sebagai kawasan industri yang tertib, memiliki standar keberlanjutan yang tinggi, serta mampu memberikan rasa keadilan bagi semua pihak.

Dengan investasi yang hampir menyentuh angka 700 triliun rupiah tersebut, masa depan industri hilirisasi di Indonesia diharapkan semakin cerah dan berdaya saing global.

Terkini